(Artikel ini juga di publikasikan di harian umum Pikiran Rakyat Selasa, 4 September 2007)
Komunikasi merupakan salah satu ujung tombak memasarkan produk atau pelayanan perusahaan dan organisasi. Tanpa komunikasi, bisnis dan usaha perusahaan tidak akan berjalan dengan baik. Komunikasi juga merupakan salah satu keterampilan yang perlu dikuasai oleh pelaku usaha dalam meyakinkan konsumennya untuk menjadi mitra dalam bisnisnya.
Agar proses komunikasi berhasil perlu diperhatikan tahapan untuk melakukan komunikasi yang efektif. Menurut Philip Kotler, model komunikasi efektif perlu memperhatikan tahap-tahap yang dikenal dengan AIDA, yaitu perhatian (attention), minat (interest), kehendak (desire) dan tindakan (action).
Seorang pemasar perlu menarik perhatian lawan bicaranya agar diperhatikan sehingga timbul minatnya untuk berinteraksi dalam proses komunikasi. Selanjutnya dalam proses komunikasi tersebut diharapkan timbul kehendak lawan bicara tersebut untuk berapresiasi atas isi pembicaraan yang disampaikan. Akhirnya terjadi suatu tindakan sebagai dampak dari kesuksesan proses komunikasi tersebut.
Terlepas dari proses yang harus dilalui seseorang untuk melakukan komunikasi, hal yang paling penting dalam berkomunikasi adalah isi komunikasi. Isi pembicaraan yang menarik biasanya hal-hal yang baru didengar oleh seseorang, tetapi perlu dihindarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Tantangan lainnya yang dihadapi pemasar adalah menghadapi keluhan yang disampaikan oleh konsumen dan pelanggan atas produk dan pelayanan yang tidak sesuai dengan janji perusahaan. Perusahaan atau organisasi harus berani mengakui atas kesalahan tersebut yang terjadi. Seringkali pengakuan sejujurnya tidak dapat sepenuhnya dilakukan oleh staf pelayanan karena ketakutan dimarahi oleh majikannya. Sehingga menyebabkan pada penyampaian informasi yang tidak benar dan kadang-kadang mengada-ada.
Seorang pemasar yang handal perlu mempraktekan sportivitas komunikasi. Sportif adalah sikap terbuka untuk menerima kenyataan yang sebenarnya. Kata-kata sportif biasanya ada di Dunia olahraga, yang dalam Karate disebut Bushido, dimana setiap olahragawan harus mengakui kemenangan lawannya bila menghadapi kekalahan.
Kata sportif sekarang ini menjadi populer di kalangan professional, pengusaha dan pemerintah sebagai suatu cara mengakui bahwa ada yang tidak beres dalam proses pelayanannya pada pelanggannya atau pengguna jasanya. Misalnya, seorang pengusaha memasarkan produknya pada pelanggannya, menyampaikan dengan sebenar-benarnya beragama fasilitas yang dimiliki maupun yang tidak dimilikinya. Sebaliknya pula, bila dalam proses penghantaran jasa pada pelanggannya terjadi kerusakan, maka perusahaan harus berani menanggung resiko untuk mengganti kerugian atas kesalahan yang tidak dilakukan oleh pelanggan.
Untuk mempraktekan sportivitas komunikasi perlu diperhatikan dua faktor berikut ini. Pertama, isi komunikasi harus rasional dan mampu membangkitkan minat lawan bicara dengan baik. Contoh, pesan perlu memiliki daya tarik rasional dan menampilkan manfaat tertentu kepada lawan bicara. Biasanya dalam proses komunikasi seperti ini konsumen cenderung mengumpulkan informasi dan memperkirakan beragam manfaat yang akan diperolehnya.
Kedua, sumber pesan yaitu kredibilitas pesan yang disampaikan. Tiga hal penentu kredibilitas pesan bersumber dari keahlian seseorang dalam menguasai permasalahan, kelayakan dipercayai seseoranga atas informasi yang disampaikan, dan kemampuan disukainya lawan bicara dalam menjelaskan daya tarik sumber tersebut. Sifat-sifat keterusterangan, humor dan sikap yang tidak dibuat-buat akan menjadikan sumber pesan memiliki nilai yang tinggi.
Sportivitas komunikasi sangat diperlukan saat ini tidak hanya oleh akademisi, professional, birokrat, mahasiswa dan siapapun yang mempercayai menyampaikan informasi dengan benar dan akurat.
–Penulis, Pengusaha, Presiden IMA Jabar dan Ketua DPE Kota Bandung.
Share and Enjoy:
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
Thank you for reading this post. You can now
Leave A Comment (0) or
Leave A Trackback.
Read More
Related Reading: