Pertemuan tokoh pariwisata Jawa Barat dalam mengevaluasi pariwisata 2007 untuk menghadapi 2008

Di tengah libur Idul Adha dan Natal ini, para tokoh Pariwisata Jawa Barat berkumpul untuk mengevaluasi pariwisata Jawa Barat pada tahun 2007 sebagai bahan landasan pariwisata tahun 2008.

Pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 24 Desember 2007 tersebut dihadiri oleh 7 orang yaitu :

  1. Pak Herman Muchtar
  2. Pak Hermawan
  3. Pak Cecep Rukmana
  4. Pak Jony Iskandar
  5. Pak Yahya Mahmud
  6. Pak Deni Drimawan
  7. Pak Momon

adapun hasil dari perbincangan tersebut sebagai berikut :

Pengamatan Pariwisata pada tahun 2007 untuk konsep tahun 2008.

·         Kondisi pariwisata di Jawa Barat pada tahun 2007

·         Apa sumbang saran kita untuk Jawa Barat?

 

SESI I : PANDANGAN

Pak Hermawan :

Mengenai masalah pariwisata tahun 2007 telah diadakan suatu pertemuan di Purwakarta. Disana yang datang dari beberapa daerah hadir dan muncul beberapa pendapat dan telah dirumuskan untuk tahun 2007. Namun hasil dari pertemuan di PWKT (Bakorwil) terjadi kontradiksi. Hasil tersebut telah dibawa ke Pak Budi. Dari perjalanan hingga sekarang hanya berjan sendiri-sendiri. Satupun tidak dijalankan. Bisa dikatakan bahwa tahun 2007 itu tidak ada yang berhasil pariwisata Jawa Barat.

Table Top merupakan promosi tempat dagang hotel. Sasaran dari pemasaran tadi tidak kena. Target tahun 2007 adalah 1 juta namun yang datang hanya 300.000.

Kota Bandung hanyalah menjadi yang paling baik. Hingga kekurangan kamar. Contoh : Garut sudah dipromosikan oleh wartawan bahwa akan terjadi longsor sehingga tidak ada turis yang datang.

Perhutani sekarang sudah welcome dengan dunia pariwisata. Sekarang Gunung Tangkuban Perahu sudah tidak primadona lagi. Malah orang Cina mencarinya Kawah Putih.

Banyak macam-macam yang tahun 2007 ini tidak kena.

Pemasaran hanya berjalan sendiri.

 

Pak Cecep :

Jawa Barat tidak masuk kedalam suatu daerah tujuan yang dipromosikan oleh pusat. Kalo bisa kita (tokoh pariwisata) ada Forum untuk evaluasi pada akhir tahun untuk menghadapi Visit Indonesia Year.

Dulu Panghegar bisa mendapatkan akupensi mayoritas dari Belanda (mancanegara) namun sekarang tidak seperti itu lagi.

Sekarang persaingan hotel sudah liberal sekali. Pada saat weekend memang penuh, tapi pada saat weekday terjadi tarik menarik harga yang banting-bantingan.

Dulu pada saat PHRI dan ASITA berdampingan mengatur quota akupensi agar dapat menambah kamar.

Bandung sekarang kian macet. Seharusnya pada saat mengundang orang ke daerah, harus diperhitungkan juga kenyamanan. Seharusnya pariwisata juga memikirkan pembangunan dan tata kota. Hal ini akan berdampak efek jera. Investor sekarang juga tampak dibiarkan saja (yang kuat memakan yang lemah)

Apa yang harus dipikirkan mengenai hal ini?

Bisnis pariwisata sekarang seperti apa?

Pada saat Visit Indonesia Year, apa yang akan kita lakukan? Apa yang pemerintah akan lakukan?

Malaysia bahkan menyiapkan hingga 5 tahun sebelumnya.

Kita tidak dapat berharap banyak terhadap Pemerintah. Apalagi dengan paradigma pariwisata yang masih seperti dulu.

Perlu dibicarakan kepada pemkot agar turis ke bandung bisa sustainable.

 

Pak Deni Drimawan :

Kelihatannya dari persepsi saya pribadi, pelaku2 pariwisata sekarang keluhannya 11 12. Sudah banyak sarasehan-sarasehan/pertemuan/seminar namun hasilnya tidak terealisasi. Ini merupakan salah satu kepesimisan kita di sektor pariwisata. Terlepas dari target yang telah dicanangkan, namun terlihat sangat sulit untuk dilaksanakan.

Yang pertama bukan hanya karena orientasinya menghabiskan anggaran saja tapi tidak semua menyadari harus bagaimana actionnya. Terlihat bahwa koordinasi dan sinergi antar dinas kurang baik.

Saran agar hasil dari pertemuan semacam ini langsung ditodongkan saja ke kepala pusatnya saja.

Kepariwisataan di Jawa Barat ini, dari tahun 1990 ternyata tidak berhasil.

 

Pak Yahya :

Kalo kita mengevaluasi pada tahun 2007 kinerja Jawa Barat pada sektor pariwisata tampak begitu-begitu saja. Antara Disdubpar dan asosiasi ini terlihat menjauh. Ada juga satu kesan bahwa antar asosiasi ini di adu dombakan. Hanya beberapa asosiasi saja yang diajak bicara.

Seharusnya pemerintah daerah ini sadar, salah satu faktor penunjang pariwisata ini dari asosiasi/swasta.

Jawa Barat ini sekarang sudah tidak diperhitungkan di tingkat nasional.

Setiap ada pengeluaran anggaran di Disdubpar, DPRD tampak tidak memperhitungkan dengan mendiskusikan kepada asosiasi. Padahal yang mengerti betul kegiatan tersebut adalah asosiasi/swasta.

Malaysia Tahun 2008 menggoalkan target pariwisata 1.300.000 pengunjung.

Di kantor kedutaan seharusnya ditempatkan sebagai bahan promosi pariwisata Indonesia (dan Jawa Barat).

Pak Budi mengajukan 100 M untuk tahun 2007. Komisi B ragu, sehingga jadinya 63 M.

Jika Bandung mau menjadikan Pintu Gerbang Pariwisata Jawa Barat, perlu dilakukan koordinasi dengan daerah-daerah lain karena tempat pariwisata umumnya berada di luar Bandung (Kab. Bandung, Sumedang, Subang, dll).

Kita harus berusaha memperlama masa tinggal pariwisata.

 

Pak Joni :

Saya akan melihat dari sisi pendidikan. Saya didatangi oleh Komisi X. Namun pada datangnya betul-betul kecewa. Karena mereka tidak serius menghadapi ini.

Saya mulai dengan Visit Indonesia Year. VIY terlihat heboh hanya di dalam negeri tidak diluar negeri??? Setelah di cek di Singapore terlihat bahwa Singapore sendiri tidak mengetahui mengenai VIY.

Bagaimana dengan Jawa Barat. [Bandung baru hari Rabu 26/12/07 dirapatkan]

Pariwisata Jawa Barat ini bukan berdasarkan hasil kerja pemerintah melainkan swasta.

Hasil survey ke Malaysia, ternyata mereka TIDAK MENGENAL BANDUNG.

Hasil penelitian di Singapore :

Travel Agency Market China

Travel Agency Malay, India, dsb

Travel Agency Wisatawan Mancanegara

Ternyata mereka tidak mengenal Bandung juga, karena mereka kalah oleh Thailand yang 3 hari 2 malam yang harganya jauh lebih murah. Harga yang dijual Merpati mahal sekali. Dan ternyata lewat Jakarta bisa lebih murah.

Perlu adanya penetrasi pasar di Singapore dan Malaysia untuk mengenal Bandung.

Saran Table Top tidak hanya saja untuk masyarakat Bisnis namun perlu untuk dilaksanakan terhadap masyarakat (dengan cara Table Top di Mall atau sekitarnya)

Perlu kesepakatan yang lebih intens untuk mengembangkan pariwisata dari pemerintah dan swasta.

Terlihat Change Management hanya baru dimulut. Walaupun Pak Lex dan Pak Askari bersikap, namun dibawahnya juga perlu ditanggapi dengan action.

 

Pak Momon :

Pelaku pariwisata saat ini yang saya amati terlalu ketergantungan terhadap kepemerintahan. Fasilitas dsb diminta dari pemerintah. Padahal pelaku pariwisata ini dijadikan bemper bagi pemerintah dalam hal anggaran. Pelaku pariwisata terlihat kurang berani untuk hearing dengan DPR.

Mungkin ada benarnya bahwa untuk tahun 2008 pemerintahlah yang harusnya beketergantungan dengan kita.

Kita kekurangan informasi, Contoh : pada saat kedatangan turis belanda, turis itu ingin melihat Kendang Pencak yang kita sendiri kurang mengetahui mengenai informasi tersebut, akhirnya kebingungan.

Terlihat terjadinya koordinasi yang kurang termasuk dengan daerah juga kurang.

Kita harus menggalakan informasi!

Harapan saya : Pelaku pariwisata sekarang jangan terlalu beketergantungan dengan pemerintah, malah merekalah seharusnya beketergantungan dengan kita.

 

Tanggapan Pak Hermawan :

Menyambung dari Bapak-bapak tadi yang berbicara, sedikit mengenai Jawa Barat. Kita kurang koordinasi yang baik antara pemerintah dengan kita. Pengalaman-pengalaman tahun 2007 haruslah dijadikan pengalaman untuk fight di tahun 2008.

Pemerintah terlihat dagang sendiri, cobalah untuk bergandengan bersaman asosiasi-asosiasi. Anggaran tersebut dianggarkan untuk asosiasi-asosiasi.

Ada beberapa wisatawan yang datang ke tempat saya (sindang reret). Bagus sekali brosurnya yang ternyata dari kabupaten bandung. Setelah datang kesana dia kecewa, karena ternyata mengelabui turis.

Menghadapi “Jawa Barat yang termaju”.

Satu-satunya jalan adalah kita kembali lagi kepada infastruktur.

Tayangan televisi juga perlu diperhatikan, karena di pertelevisian yang ditayangkan kriminal, perkosaan, dll. Sehingga masyarakat singapore dsekitarnya menjadi takut.

 

Tanggapan Pak Joni :

Untuk kegiatan-kegiatan pariwisata di luar negeri (seperti contoh di Berlin), pelaku pariwisata seharusnya diajak.

 

Tanggapan Pak Cecep :

Kita memang seharusnya bisa tidak beketergantungan dengan pemerintah, namun ternyata kita harus tergantung dengan pemerintah dalam bidang infastruktur.

Perlu diagendakan untuk datang ke DPRD Bandung, DPRD Kab Bandung, dll agar pemerintah dan swasta ini saling mengisi.

 

Tanggapan Pak Yahya :

ITB Berlin dan London, Pemerintah sudah menyiapkan lahan. Namun ternyata berat untuk kaum pariwisata. Dulu departemen menyiapkan lahan untuk dibagi-bagikan lagi ke asosiasi-asosiasi dan pemerintahan. Namun sekarang banyak yang tidak mengetahui hal tersebut.

Dulu saya akhirnya dapat tempat namun di resepsionis.

 

Terdapat perbedaan pandangan :

Bagi Pemerintah : Selling Country Image, sedangkan

Bagi Daerah (Jabar, Bdg, dll) : Selling Destination

 

Tanggapan Pak Hermawan :

Kalo kita mengajukan anggaran kepada DPR sebetulnya sudah lewat, namun kita tidak akan menyangkut kepada hal itu. Seperti pada KCI. Jadi kita cobalah diprogramkan untuk mengadakan hearing dengan dewan untuk menghadapi tahun 2008.

 

 

 

SESI II : DISKUSI

Pak Herman (Kesimpulan) :

Masalahnya sama, promosi yang tidak tepat sasaran,tidak diagendakan di Pemerintah Pusat.

Menjadi bemper bagi PEMDA.

Goal kita terakhir akan menyampaikan pokok-pokok ke pemerintahan.

Saya harapkan pertemuan hari ini perlu diagendakan lagi kepada pematangan konsep di Tahun 2008. Perlu kita susun dengan penyampaian yang rapih.

Pertemuan kita hari ini apa perlu kita tindak lanjuti dengan Sarasehan?? Forum??

Singkatnya pada hari ini, apakah hari ini perlu kita tindak lanjuti dengan sarasehan yang terbatas (tidak terlalu luas). 10-20 orang dengan orang-orang yang kompeten.

 

Tanggapan Pak Hermawan :

Perlu orang industri dan lembaga pendidikan untuk ikut ambil andil dalam sarasehan lebih lanjut. Untuk pertemuan yang akan datang, dipilih saja yang benar-benar kompeten dan peduli.

 

Pak Herman (Kesimpulan) :

Kita sepakati, ini perlu ditanggapi dengan SARASEHAN dengan max 20 orang. Baik dari unsur Kadin Jabar, Asosiasi-asosiasi, dll. Agar sasaran ini tepat, maka perlu dibuat tim kecil. Ada OC dan SC.

 

Tanggapan Pak Hermawan :

Saran : Difokuskan untuk bahan/konsep pariwisata 2008.

 

Tanggapan Pak Cecep :

Sarasehan OK, kalau bisa mintakan juga program pemerintah yang mengeluarkan 100 M itu dan kita evaluasi apakah perlu dibuka dalam sarasehan itu. Pemerintah benar tidak peduli pada pariwisata.

 

Tanggapan Pak Herman :

Supaya lebih terarah, kita perlu rancang OC dan SC.

 

Tanggapan Pak Yahya :

Jangan sampai terjebak, dulu pernah dirancang oleh Pak Memed untuk disarankan ke Pak Budi. Namun tidak terlaksana dengan baik.

 

Tanggapan Pak Hermawan :

Lebih baik, sekarang digodok oleh kita, diajukan ke Gubernur, tembusan ke Kepala Dinas.

 

Tanggapan Pak Yahya :

Kita dapat bekerja sama dengan swasta luar negeri. Seperti travel Malaysia.

 

Kesimpulan Rapat :

Dibentuk tim persiapan Sarasehan :

Penasihat

Pak Hermawan

OC

Pak Herman Muchtar

Pak Yahya Mahmud

Pak Hilwan Saleh

SC

Pak Cecep Rukmana

Pak Djoni Iskandar

Pak Herman Rukmanadi

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • del.icio.us
  • Netvouz
  • DZone
  • ThisNext
  • MisterWong
  • Wists


Thank you for reading this post. You can now Leave A Comment (0) or Leave A Trackback.

Post Info

This entry was posted on Monday, December 24th, 2007 and is filed under General.

Tagged with: No Tags

You can follow any responses to this entry through the Comments Feed. You can Leave A Comment, or A Trackback.



Previous Post: Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin. »
Next Post: Foto foto pada Giatnas INKANAS II Cibubur 19-25 November 2007 »

Read More

Related Reading:


Subscribe without commenting


Leave a Reply

Note: Any comments are permitted only because the site owner is letting you post, and any comments could be removed for any reason at the absolute discretion of the site owner.


Warning: array_rand() [function.array-rand]: Second argument has to be between 1 and the number of elements in the array in /home/much01/public_html/herman/wp-content/plugins/math-comment-spam-protection/math-comment-spam-protection.classes.php on line 71

Rodney's Widget for the FAlbum. plugged in.